Pages

09 September 2011

Padungku

Padungku sebenarnya berasal dari bahasa Pamona yang berarti semua sudah rapi, sudah tertib,sudah tuntas. 
Hal ini disimbolkan dengan dua hal: pertama, padi sudah tersimpan di lumbung. 
Kedua, alat pembajak sudah dibersihkan dan ditempatkan di bawah rumah (kolong rumah). Ketika kedua hal tersebut sudah dilakukan oleh seluruh petani di satu desa maka diadakan pesta bersama yang disebut mo padungku. 
Dalam mo padungku, semua petani mengolah padi yang mereka panen dan simpan, terutama padi pertama yang dipanen dan disimpan di lumbung. 
Hasil olahan itu dimakan bersama-sama dengan seluruh
warga desa melalui molimbu. Molimbu adalah kegiatan makan bersama dimana seluruh penduduk membawa makanan masing-masing dari rumah mereka dan saling membagikan makanan untuk dimakan bersama-sama di Lobo atau baruga desa (balai desa). 
Nasi bambu adalah nasi khas yang menjadi olahan wajib saat Padungku.
Padungku diadopsi oleh gereja menjadi pesta ucapan syukur yang tidak saja bagi petani namun juga bagi semua jenis pekerjaan lain.




Pada malam hari di desa dimana diadakan Padungku akan dibuat tarian bersama, dero. Biasanya, dero dilakukan di rumah-rumah tertentu atau diadakan bersama di balai desa dengan menggunakan alat musik yang sudah disewa. 
Singkatnya, Padungku menggambarkan pesta setelah panen raya yang bisa diadakan seluruh warga di desa, dimana seluruh warga dari desa-desa lain bisa berkunjung dan memenuhi rumah-rumah untuk bersilahturahmi, makan bersama dan berpesta pora.
Jadi, kalau mendengar kata Padungku imajinasi masyarakat langsung terkait pada hari raya pasca panen dan pesta pora (termasuk Modero), dan nasi bambu. 
Hanya saja semoga makna ucapan syukur pasca panen, dimana tanah telah memberikan hasil untuk dimakan dan karenanya tanah harus selalu dijaga, dan dilindungi tidak dijual benar mendapatkan nilai perjuangannya. 
Karena setelah berpesta, kita akan menanam lagi...di tanah.

No comments:

Post a Comment